Selasa, 06 November 2018

Mengulang Luka

Tidak ada yang tersisa
Selepas engkau meninggalkan hatiku
Di sebuah ruang yang dingin

Hari itu, aku hanya merasa ngilu
di sela-sela jantungku
Tidak tahu apakah itu tentang rasa
atau sekadar kejutan

Hanya, setiap kau coba melukaiku
Ngilu yang menusuk terus datang
Meski waktu berselang
Meski terulang lagi
Itu ngilu yang sama persis

Apakah karena hatiku terlalu mengikatmu
Di dalamnya,
hingga terasa menyakitkan?

Rara Sarasva / 061118
Sebuah teriakan

Sabtu, 19 Agustus 2017

Bersyukur

Hal apa yang kiranya diperdebatkan oleh orang-orang di belahan bumi sana?
Tidakkah hidup cukup damai hanya dengan saling mengasihi?
Saling menjaga.
Lalu mengapa kita turut memperdebatkannya? Jika kita percaya pada sang Pencipta yang telah menggariskan siklus hidup makhlukNya sedemikian rupa.
Apa yang kita cemaskan? Jika Dialah Sang Maha Perencana. Allah SWT.


Rara.Sarasva 28 April 2017
📍Padang Savana Bukit Teletubies, Bromo, Tengger, Probolinggo, Jawa Timur,  Indonesia

Sajak Awan

Bukankah rindu membuat kita terasa lebih dekat bukan?
Meski tak bisa kita saling berpegangan tangan
Mendekat dengan ruhmu bersemayam
Membuat jiwa mendamba sapa
Meski tak tahu di langit mana kau ada
Inilah percakapan antara kita,
Tentang rindu
Yang tak dimengerti oleh jiwa lainnya
Antara ibu dan anak, anak dan ibunya


Sajak dari entah berapa mdpl dalam sebuah penerbangan Malang-Jakarta
Rara.Sarasva 1 Mei 2017

Sajak Kopi Hitam

Inilah semesta dengan wajah berbeda
Tandus
Dingin sekaligus panas
Tapi mengapa aku jatuh cinta padanya?
Semakin aku telusuri jalannya
Banyak rasa sakit
Tapi aku ingin tetap berada di sana
Entah untuk diam dalam rasa
Atau menikmati bagian dari ceritanya

Semestaku yang berbeda
Izinkan aku duduk di sana
Barangkali untuk menemanimu
Meski hanya dengan secangkir kopi hitam
Sederhana bukan?



#SajakKopiHitam☕
Rara.Sarasva 5 menit sebelum 6 Mei 2017

Angin yang Lelah

Kamulah angin yang telah lelah terbang
Duduk di dahan-dahan rindang
Mengeja tanah yang tak pernah beranjak dari lahirnya
Bertanya pada air di pucuk-pucuk daun yang mulai mengering oleh mentari
Awan diam melihat angin yang termenung
Ia tak bisa bergerak tanpa angin meniupnya
Sedang kamu masih saja diam
Akankah kamu kembali terbang
Meski kamu telah lelah?

Angin lihatlah tanah yang mulai mengering
Ia rindu hujan
Dan hujan rindu awan berkumpul
Menyusun molekul-molekulnya
Lalu siapa lagi yang kan menyatukan awan jika bukan kamu yang menerbangkannya?
Jika kau tetap diam, bagaimana kehidupan akan berlangsung?
Bergeraklah angin, terbang dan menarilah semaumu!
Jika kamu lelah untuk dirimu sendiri
Setidaknya jangan hentikan siklus hidup yang lainnya!

#sajakkereta
Rara.Sarasva 9 Mei 2017

Langkah Kaki

Ke mana kau akan melangkah
Wahai langkah kaki?
Kembali atau pergi?
Rasa takutmu muncul tenggelam lagi
Pahitmu sekelebat datang memenuhi pikiran
Di depanmu bukan hanya batu karang
Di belakangmu adalah pasir yang goyah
Jika kembali akankah pasir itu akan menahanmu agar tetap berdiri?
Dan jika pergi, sanggupkah kau menapaki batu karang tanpa alas kaki?
.
Kau bahkan tak tahu pilihanmu saat ini
Bagaimana kau menyiapkan dirimu
Untuk tetap tegak menggapai mimpi di depanmu sana?
.
Kadang ingin kau biarkan semuanya terbang
Biarlah kau diam di sini
Tak bergerak
Tapi pastilah senyawa disekitarmu memaksamu beranjak
Pada jalan yang tak kau tahu ini.
.
Rara.Sarasva 30 Juni 2017

Sepasang Kaki

Kita hanya sepasang kaki yang melangkah di atas pasir.
Satu langkah maju meninggalkan kaki yang lainnya.
Sama seperti pasir yang melekat sesaat.
Sebentar saja pasir pun pergi terbawa ombak.
Lalu...
Langkah kita terasa sepi.
Satu pergi mendahului,
Satu lagi tak mau berhenti.
Sedang sepi kita ini,
pastilah tak lebih sepi dari sepimu di sana.

Rara.Sarasva 25 Juni 2017

Bumi pun Lelah

Lihatlah pada satu titik Langit yang semula abu-abu perlahan membiru Pagi tak lagi menyuguhkan aroma asap knalpot Sisi-sisi jalan mulai...