Rabu, 22 Oktober 2014

Origami dalam Rumah Kaca

Ada rindu
Ada benci
Ada cemburu
Ada amarah
Ada kesal
Ada luka
Ada tawa
Ada tangis
Ada doa

Semua tertulis di sana
Tiada peduli arah
Ia adalah goresan-goresan tinta
yang mugkin tak 'kan pernah tiba pada muaranya
Ia hanya perahu-perahu kertas tanpa nahkoda
Ia kan mengendap di sana selamanya
Hingga kotak kaca itu penuh
Ia tak 'kan mungkin bertemu
Pada muara yang semua rasa ada

Bogor, 19 Oktober 2014

Rabu, 15 Oktober 2014

Kau dan 7 Oktober

Ada doa yang ku rahasiakan
Cukup hatiku yang berbicara
Kepadanya yang punya kuasa
Entah engkau menantiku atau tidak
Aku hanya ingin diam hari ini
Tak ingin kusapa kau di sana
Aku harus bisa merahasiakan
Sebuah rindu dan kecupan pengiring doa

Untuk kau yang di sana;
Meski ku tak nampak oleh mata, oleh suara, oleh apa pun jua
Aku tak mungkin bisa tak mengucap doa
Aku tak kuasa menyimpan kata
Hari ini, andai kita masih bersama
Ku ingin bisa menikmatinya di sana
Sebuah tempat yang pernah ku rencanakan
Mematikan ponsel kita
Dan kau terima sapa dan doa pertama dariku saja

Untuk kau yang di sana;
Semoga Tuhan selalu menjadikanmu bijaksana
Semoga Tuhan selalu mengingatkanmu kala jalanmu keliru
Semoga Tuhan selalu menjagamu dalam kasih dan cintanya
Semoga Tuhan selalu ingatkanmu tuk tetap membumi
Dan semoga Tuhan, mengabulkan doaku untukmu

Untuk kau yang di sana;
Selamat ulang tahun


*puisi yang ingin ku posting saat ia sudah kembali ke dunia ombak dan sulit sinyal

Bogor, 7 Oktober 2014

Kamis, 09 Oktober 2014

Angel: Anganku

Jari-jari mungil yang lembut
Bibir mungil kemerahan
Cepatlah kau besar sayang
Andai aku bisa berjumpa denganmu
Ku ingin membelai rambutmu nanti
Menyisir dan mengikatnya ke belakang
Ku ingin melihatmu berlarian di taman bersamaku
Ku ingin kau belajar bersamaku tentang indahnya alam
Juga tentang kasih sayang

Bogor, 9 Oktober 2014

Rabu, 08 Oktober 2014

Angel: Putri Mimpi dan Imajinasiku

Setahun enam bulan lalu
Gadis kecil dalam sebuah mimpi
Selamat datang di dunia
Hari ini, tiga hari sudah kau hirup aroma dunia
Selamat sayang, kau adalah gadis itu
Yang kupangku dalam sebuah mimpi
Yang kulahirkan dalam sebuah cerita rekaanku
Angel, kusebut namamu dalam novel belum berjudulku
Dalam imajinasi dan karyaku
Kukisahkan tentang kamu
Gadis kecil yang mungil dan penuh kasih sayang
Angel, meski kau terlahir dari rahim mamamu, bukan aku
Namun kau adalah gadis kecil yang kan kubanjiri doa-doa terbaikku
Angel, kau adalah malaikat
Yang menyimpulkan senyumku lagi kali ini
Angel, aku yakin ini bukan lagi kebetulan yang berulang
Kau adalah bukti nyatanya
Kehadiranmu yang kurasakan justru sebelum kau ada
Angel, betapa bahagianya papamu
Kau adalah dambaan hatinya sejak dahulu
Jadilah malaikat yang selalu menjaga papamu sayang

*Puisi untuk gadis kecil dalam pangkuan mimpiku yang terlahir 5 Oktober 2014 lalu

Bogor, 8 Oktober 2014

Jumat, 03 Oktober 2014

Batik : Sebuah Persembahan untuk Hari Batik Nasional


Mega mendung, kawung, merak, sekar jagad, truntum, pringgodani, manggaran
Tak terpisahkan dengan aneka warna yang melapisinya
Lilin-lilin cair dan canting-canting mungil
Menari dalam genggaman jemari wanita pribumi
Di atas lembaran-lembaran kain putih

Aneka motif yang terlahir dari alam Indonesia
Adalah sebuah kebanggaan Ibu Pertiwi
Sebagai ciri khas dan karya abadi anak bangsa
Yang harus terjaga dan terlestarikan

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Hentikan Keluhan


Serpihan peluru bersarang di bahu lelaki itu
Ia berjalan menahan kucuran darah dari bahu kirinya
Sehelai kain diikatnya tuk menahan peluru masuk terlalu dalam
Rasa sakit dibenamkannya demi menyelamatkan batas-batas wilayah

Ia yang dengan bangga menerima mandat
Rela berjauhan dari keluarga tercintanya
Demi keutuhan sebuah bangsa
Tetap diam tanpa keluhan

Lalu mengapakah raga ini berkeluh kesah
Yang sehari-hari berdiri di ruang dingin dan sejuk
Membagi ilmu tanpa kecemasan akan todongan moncong senapan
Bukankah harusnya kusampaikan rasa syukur yang tiada terkira

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Teriak Sebongkah Kayu



Dingin tak teruraikan mentari
Langit masih saja teduh
Mengiringi langkah kaki
Menggapai mimpi

Sebongkah balok kayu terbujur kaku
Mengantarkan kaki-kaki mungil ke seberang
Kaki-kaki mungil mengayuh langkah tanpa alas kaki

Teriak sebongkah kayu;
Lepas sepatumu, aku terlalu licin untuk alas sepatu
murahmu!
Pelan-pelan saja, jangan kalian berebut!
Salah-salah kalian terpeleset dan jatuh ke aliran deras
di bawahku
Sungai-sungai berbatu itu bisa menelan dan melukai
tubuh mungil kalian

Sebongkah kayu yang membujur di atas sungai iba
Pada kaki-kaki mungil yang melintasinya
Betapa ia mencemaskan nasib mereka di atas batangnya yang telah renta dan lapuk

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Bumi pun Lelah

Lihatlah pada satu titik Langit yang semula abu-abu perlahan membiru Pagi tak lagi menyuguhkan aroma asap knalpot Sisi-sisi jalan mulai...