Jumat, 15 Februari 2013

Hati Yang Berkisah


Ternyata hati memang tak bisa dimengerti
Logika kerdil dan mati
Terlebih ketika kekasih yang telah pergi
Datang berulang kali lewat mimpi
Otak kecil sebagai perekam memori
Tiada mau berhenti membawa raga pergi
Menyusuri alam bawah sadar sendiri

Menikmati wajah kekasih walau telah melukai
Kekasih telah jauh meninggalkan hati
Mengapa kini datang kembali
Lewat mimpi-mimpi lelap saat dini hari
Kekasih yang begitu diingini hati
Di mana ia kini?
Kenapa masih saja kenangannya menyiksa hati
Kekasih hati
Andai nanti kau benar mati
Matikanlah pula kenanganmu dari hati ini
Sebab bayangmu terlalu menyiksa hati

Rara Sarasva, 08 Oktober 2012

Tutup Luka Setahun Lalu


Pagi baru telah tiba
Hmmm…
Kucium aroma embun hidupku
Setidaknya aku masih  menapak ke bumi
Ragaku masih teraba di tempatnya
Lalu apa rencanaku?

Ahh, biarkan sel-sel tubuhku yang menentukan arahnya sendiri

Jangan paksakan otak berangan sendiri
Biar rencanaNya yang tak kita ketahui
Menjadi kejutan-kejutan berarti
Bukan lantas menghindari diri

Rara Sarasva, 17 Oktober 2012
#Platinum Plaza Blok M Jakarta Selatan,
Masih kudengar lantang suara perempuan dengan kemeja tosca kala itu

KEMATIAN II


Tubuhku yang letih
Tak jua mampu membuat malam melelapkanku
Rasa takut akan kehilangan
Menyeruak kembali menggalaukan hati

Dia yang begitu kami cintai
Begitu diingini kekasih hatinya menemani
Di alam jauh tak terjangkau mata

Sedang kau, hadir dalam wajah pasi
Namamu terpahat rapi dengan tinta emas tebal
Dalam kilap batu nisan hitam lebar
Menimbulkan cemas akan nyata sebuah ucapan

Kehilangan, kematian, kenapa hadir begitu menakutkan?
Tidakkah diberi sedikit jeda untukku bernafas tanpa air mata?
Atau melukis tawa daripada menahan rasa sesak di dada?

Rara Sarasva, 21 Oktober 2012

Usaikan Malam


Malam hampir usai
Kita pun telah lelah menikmati indahnya kota
Sudahi saja kisah kita di sini
Tanggalkan rasa untuk lusa
Berbagi cinta dengan mereka
Menebar semangat untuk pemulihan jiwa raga
Dengan canda tawa atau sekedar senyuman

Rara Sarasva, 3 November 2012

Rabu, 13 Februari 2013

Kenanga Ibu


Tarian rindu Rara Sarasva

Hijau pucuk-pucuk Kenanga menggiurkan mata berlama-lama di sana
Itu kuncup-kuncup Kenanga Ibu
Kunanti sebentar lagi agar mewangi
Karena nanti kupetik sendiri untuk Ibu
Kutabur bersama kelopak-kelopak mawar

-Ibu, ini Kenanga Ibu
Yang Ibu tanam semasa sehat dulu
Beginilah kini hidup kenanga Ibu
Dipetik untuk mewangikan pusaramu
Perhatikanlah Kenanga Ibu
Ia tersenyum dan mewangi untukmu
Sebagai balas budi kepada Ibu
Yang tulus memberinya hidup hingga berbunga harum

Jepara, 14 September 2012


Bukit Keduaku


Tubuhku menari dalam hujan daun-daun beringin
Angin menerpa dengan semilir
Membuat ragaku lupa diri
Hari yang berangsur gelap
Mengusungku pergi dari rindang bukit Elizabeth
Tangisku jatuh membasahi bukit
Ternyata, kehilanganmu begitu menyiksa hati
Hanya di sini tempatku berlari
Menjauh dari jejakmu yang memenuhi hari dengan belati

Tarian Rara Sarasva di Bukit Elizabeth
Semarang, Desember 2009

Bahasa Hati


Karna kau adalah bahasa yang tak terbahasakan
Selain matamu yang selalu mengagumiku
Di saat aku begitu buruk di antara yang lain
Kau adalah kebersamaan
Yang tak mampu kujelaskan lewat kata
Sebab kau menyatu dalam aliran darahku
Dan sembunyi di bilik jantungku yang letih berdetak

Rara Sarasva
10 November 2012

Bumi pun Lelah

Lihatlah pada satu titik Langit yang semula abu-abu perlahan membiru Pagi tak lagi menyuguhkan aroma asap knalpot Sisi-sisi jalan mulai...