Jumat, 15 Februari 2013

KEMATIAN II


Tubuhku yang letih
Tak jua mampu membuat malam melelapkanku
Rasa takut akan kehilangan
Menyeruak kembali menggalaukan hati

Dia yang begitu kami cintai
Begitu diingini kekasih hatinya menemani
Di alam jauh tak terjangkau mata

Sedang kau, hadir dalam wajah pasi
Namamu terpahat rapi dengan tinta emas tebal
Dalam kilap batu nisan hitam lebar
Menimbulkan cemas akan nyata sebuah ucapan

Kehilangan, kematian, kenapa hadir begitu menakutkan?
Tidakkah diberi sedikit jeda untukku bernafas tanpa air mata?
Atau melukis tawa daripada menahan rasa sesak di dada?

Rara Sarasva, 21 Oktober 2012

Usaikan Malam


Malam hampir usai
Kita pun telah lelah menikmati indahnya kota
Sudahi saja kisah kita di sini
Tanggalkan rasa untuk lusa
Berbagi cinta dengan mereka
Menebar semangat untuk pemulihan jiwa raga
Dengan canda tawa atau sekedar senyuman

Rara Sarasva, 3 November 2012

Rabu, 13 Februari 2013

Kenanga Ibu


Tarian rindu Rara Sarasva

Hijau pucuk-pucuk Kenanga menggiurkan mata berlama-lama di sana
Itu kuncup-kuncup Kenanga Ibu
Kunanti sebentar lagi agar mewangi
Karena nanti kupetik sendiri untuk Ibu
Kutabur bersama kelopak-kelopak mawar

-Ibu, ini Kenanga Ibu
Yang Ibu tanam semasa sehat dulu
Beginilah kini hidup kenanga Ibu
Dipetik untuk mewangikan pusaramu
Perhatikanlah Kenanga Ibu
Ia tersenyum dan mewangi untukmu
Sebagai balas budi kepada Ibu
Yang tulus memberinya hidup hingga berbunga harum

Jepara, 14 September 2012


Bukit Keduaku


Tubuhku menari dalam hujan daun-daun beringin
Angin menerpa dengan semilir
Membuat ragaku lupa diri
Hari yang berangsur gelap
Mengusungku pergi dari rindang bukit Elizabeth
Tangisku jatuh membasahi bukit
Ternyata, kehilanganmu begitu menyiksa hati
Hanya di sini tempatku berlari
Menjauh dari jejakmu yang memenuhi hari dengan belati

Tarian Rara Sarasva di Bukit Elizabeth
Semarang, Desember 2009

Bahasa Hati


Karna kau adalah bahasa yang tak terbahasakan
Selain matamu yang selalu mengagumiku
Di saat aku begitu buruk di antara yang lain
Kau adalah kebersamaan
Yang tak mampu kujelaskan lewat kata
Sebab kau menyatu dalam aliran darahku
Dan sembunyi di bilik jantungku yang letih berdetak

Rara Sarasva
10 November 2012

Kematian


Rasa menjadi beku
Sebeku batu di tepian pantai itu
Tubuh menjadi kaku
Sekaku batang kayu di tengah sungai itu

Jika rasa begitu beku
Mampukah kita menikmati gelombang kehidupan?
Ketika raga begitu kaku
Mungkinkah kita saling merengkuh kehidupan?

Jika kehidupan tak lagi mampu kita sentuh dengan nikmat
Maka itulah kematian yang seutuhnya

Semarang, 26 Maret 2010

Rabu, 06 Februari 2013

Puisi Sandal Kumal

Leukemia, Berdamailah
By: Rara Sarasva

Berhentilah sejenak
Beri sedikit kesempatan untuk mengecup mawarku
Dia masih jauh di ujung timur sana
Berpeluh menahan aksi pemberontakan

Berhentilah melahap sel-sel darah merahku
Beri sedikit waktu untukku berbagi tawa dengan anak-anak Rambo
Menyanyikan puji-pujian untuk Tuhan
Di antara bisingnya teriakan kondektur terminal Rambutan

Berhentilah sebentar dalam angka normalmu per mikroliter
Bukan untuk beringkar pada dosa
Hanya seutas pesan yang hendak kusampaikan
Hanya berbagi kasih yang Tuhan titipkan

Berhentilah menyusup jauh ke dalam sum-sum tulang belakangku
Kita sedikit melakukan jeda untuk bekerja
Duduk dan diamlah, sebentar saja
Halau fonis lelaki berjas putih itu tentang hari esok yang mungkin tak ada

26 Agustus 2012

*Salah satu puisi dalam Buku Antologi Puisi Sandal Kumal. Dapat anda beli dengan sms ke 082326116922

Bumi pun Lelah

Lihatlah pada satu titik Langit yang semula abu-abu perlahan membiru Pagi tak lagi menyuguhkan aroma asap knalpot Sisi-sisi jalan mulai...