Selasa, 11 Maret 2014

Lonceng Stasiun

Seperti kudengar kembali
Suara lonceng stasiun kala itu
Menyudahi kata-kata dalam catatanku
Akankah ada lagi senyum itu?
Senyum yang menyambutku di bibir pintu stasiun?

Jika nanti kau datang menjemputku kembali
Pastikan keretaku telah tiba
Agar tak perlu kau lama menanti
Sebab kuingin duduk sejenak
Merasakan menanti sambil menikmati alunan lonceng Stasiun Tawang

*Untukmu sang alasanku tetap ada

Sabtu, 08 Maret 2014

Serapuh Jantungku

Ini malam
Yang selalu mengantarkanku pada pilu
Ini malam
Yang selalu aku tunggu
Menjemputku ke pangkuan Ibu saat lelap
Ini malam
Yang selalu menjamuku dengan ngilu
Ini malam
Yang menggumpalkan darah di jantungku
Ini malam
Yang kurapkan datang menyudahi usiaku
Ini malam
Aku rapuh seperti jantungku
Yang denyutnya nyaris tak lagi kudengar

Senin, 23 Desember 2013

Berhenti

Inikah rasanya kecewa
Inikah rasanya kehilangan
Inikah hidup yang tak lagi ada sari patinya?

Aku letih akan kecewa ini
Aku letih menjadi anomali
Aku ingin lepas seperti perempuan normal
Yang punya harapan
Punya mimpi untuk diri sendiri
Untuk orang-orang yang dicintai dan mencintainya
Bukan diperbudak oleh imajinasi
Yang terus memaksaku merasakan luka

Aku ingin kembali, seperti aku sedia kala
Aku ingin berhenti menjadi budak imajinasi
Aku ingin berhenti menulis,
Aku ingin berhenti mendokumentasikan luka
Aku ingin melakukan ini
Untuk kamu yang aku cintai
Aku ingin melakukan ini
Untuk aku yang ingin tetap kau cintai
Selamanya...

Home, 23 Desember 2013

Sabtu, 07 Desember 2013

De Javu

Cerpen untuk sebuah kenangan di dini hari, 25 Desember 2010

Ini adalah Desember, di penghujung Desember saat aku menanti Januari mengantarkan sebuah senyum di bibirku.
Masih teringat jelas mimpiku di Januari lalu. Saat lelap menenggelamkanku dalam tidur malamku, aku bertemu dengan seseorang yang kupanggil "Ibu". Seorang Ibu yang selalu erat memelukku, seperti pelukan bunda.
"Mau ke mana kau nak?" Tanya Ibu padaku saat aku berpamitan mencium punggung tangannya.
"Saya ingin ke Sudirman Bu." Jawabku lirih.
"Ngapain?" Tanya Ibu lagi.
"Saya akan menjemput putra Ibu di sana." Jelasku.
"Ya sudah, hati-hati di jalan yaa..." Ibu tersenyum dengan binar mata yang hangat.
Aku melihat sebuah tempat yang tidak asing. Trotoar Istora Senayan. Sebuah jalan dengan pepohonan yang rindang. Ya, jalan Sudirman Jakarta Selatan. Belum sempat aku bertemu dengannya, aku terbangun dari tidurku. Kuraih segelas air putih di meja tepat di sisi tempat tidurku.
Aku keluar dari kamar menuju balkon. Angin malam begitu semilir membelai kulit wajahku. Aku memandang jauh ke hamparan lampu-lampu Jakarta yang berakhir di Laut Jawa.
"Mungkin aku merindukanmu, kenangan yang kini aku tidak pernah tahu di mana keberadaanmu. Tidak mungkin kau ada di Jakarta. Namun, andai suatu saat kita dipertemukan oleh takdir di sini, apa yang harus aku katakan? Aku masih mengenang Januari 2007 lalu, ia masih terasa begitu dekat dengan ingatanku. Tapi enam tahun sudah itu berlalu, dan kisah ini tidak pernah ada ujungnya hingga hilang jejaknya seperti saat ini. Hmmhh... Semoga kau baik-baik saja di pulaumu, di timur Indonesia."

•••

Malamku telah berlalu, hari itu pun telah terlewati begitu biasa. Rutinitas kantor yang terkadang menjenuhkan, akan hilang jika aku mengakhirinya dengan memasak sebuah menu-menu sederhana dan tentunya semua menu yang beraroma sayur-mayur.
"Akhirnya kita libur satu minggu saat Imlek nanti" gumamku pada teman kerjaku.
"Iya, rencana mau ke mana mba?" Tanya Vina.
"Aku ingin sekali pulang kampung, aku rindu perjalanan" jawabku seraya memejamkan mata mengingat sebuah aktifitas yang sangat kusukai. Perjalanan! Ya. Perjalanan memang selalu mampu membuatku mendamaikan hati, mampu membuatku melakukan sebuah perenungan dari perjalanan hidup yang aku tahu itu semua tidak pernah mudah untuk kulalui. Tapi aku bersyukur pernah mengalami masa-masa yang luar biasa itu.

Sabtu, 9 Februari 2013

Aku memilih naik bus, selain hemat juga lantaran tiket kereta habis. Malam itu hujan mengguyur bumi. Aku masih di jalan. Ada sebuah SMS masuk.
(Malam mbak, apa kabar?)
[Baik de, kamu sendiri bagaimana kabarnya?]
(Aku baik mbak, lagi di mana nih mbak?)
[Ni mbak lagi di jalan de, Ibu sama bapak sehat kan de?]
(Iya mbak sehat semua, mau ke mana mbak, kok malam-malam masih di jalan?)
[Mba mau pulang kampung de.]
(Ooww, naik apa mbak. Hujan gak? Semarang hujan nih.)
[Iya de hujan deres banget, mba naik bus.]
(Sama siapa mbak?)
[Sendirian de... Oh ya mas Rasya apa kabar de, masih di Maluku kah? udah nikah belum?]
(Hati-hati ya mbak, kok sendirian. Udah mbak akhir tahun lalu)
"Jlegggkkk!!" Aku tercengang sejenak dan membaca lagi SMS itu.
[Iya de, biasanya juga sendirian. Sama orang mana de?] Segera aku memburu rasa penasaranku. Aku tidak rela jika akhirnya perempuan yang hadir dalam hancurnya hubunganku dengannya yang akhirnya dinikahinya. Meski aku tahu, hatiku masih tidak mengerti ini nyata atau hanya sebuah mimpi. Aku memperbaiki posisi dudukku, sesekali melihat ke arah jendela yang diguyur hujan seperti sedang menangis.
(Sama orang Bogor mbak, namanya mbak Reza) Aku sedikit lega.
"Tuhan, inikah arti mimpi itu? Atau ini makna dari mimpi Oktober lalu? Saat aku melihat namanya terpahat dalam sebuah batu hitam lebar itu? Lalu mimpi seseorang datang memberiku undangan pernikahan?" Aku semakin termangu dengan takdir yang tak pernah bisa kucapai dengan logikaku.
[Ooh, yaudah. Salam buat Ibu sama Bapak ya de, jangan lupa belajar, besok sekolah.]
(Iya mb nanti aku salamin. hahaha kan besok minggu mbak, gak sekolah jadi gak belajar dulu.)
[Oh yaudah kalo gitu, mba mau istirahat dulu ya de]
(Ok mbak, hati-hati di jalan ya mbak :D )
[Ok :) ] aku segera mengakhiri percakapan di SMS dengan adik angkatnya itu. Aku merasakan tubuhku lemas seketika, seolah aliran darahku berhenti. Tapi aku masih sadar, aku sedang tidak sendiri, aku sekarang berada di perjalanan, aku ingin teriak tapi itu tidak mungkin, sekelilingku terlalu banyak orang. Aku hanya bisa memandang ke luar jendela yang gelap, meski hujan sudah mulai reda pikiranku tidak pernah berhenti mengingatnya. Aku hanya bisa menikmati sakitnya menahan air mata, dengan suara musik di telingaku. Aku tidak tahu, ternyata cinta bisa secepat itu berlalu baginya. Aku hanya ingat, awal Juni 2012 lalu aku masih marah padanya saat ia ulang tahun. Kemarahan atas luka masa lalu yang belum juga bisa kuterima saat itu. Meski saat itu pun aku nyaris tidak bisa teriak menahan rasa sakit saat aku menghindari mengangkat telepon darinya.

•••

Aku sudah kembali ke Jakarta, setelah mengenang sebuah kota yang teramat sulit untuk dihapuskan dari ingatanku. Bahkan terkadang aku ingin merasakan menjadi seorang amnesia saja. Semua tentang dia tidak pernah bisa pergi dari ingatanku, tingkah jenakanya yang selalu bisa membuatku tersenyum saat aku marah. Hormat dua jarinya (jari telunjuk dan jari tengah yang disatukan dan ditarik dari kening) masih sangat jelas tergambar dalam ingatanku. Tawanya yang lepas usai menjahiliku dan siulannya yang selalu mengalihkan mataku dari buku diary merah maroonku.
Aku memejamkan mataku menikmati hujan dari balkon apartemen. Hidup adalah tentang sebuah kata "IKHLAS." Kita bukan pencipta takdir. Namun, andai kesempatan kedua itu ada untuknya di awal Juni 2012 lalu, mungkin tidak akan ada seseorang yang akan menyesali rasa sakit karena melewatkan cinta yang begitu indah. "Huuuhhhhh...." Aku menghela nafas panjang. Setidaknya aku bahagia dia menikahi seseorang yang jauh lebih baik dariku dan tentunya bukan perempuan yang pernah hadir sebagai orang ketiga dalam hubunganku di masa yang lalu.

Mei 2013

Suatu hari, saat aku di kantor dan kerjaan sudah selesai, aku membuka BBM dan melihat fotonya dipasang di kontak BBM teman dekatnya Rendy, yang juga aku kenal.
Aku: "Dia gendutan ya sekarang?"
Aku memulai percakapan.
Rendy: "Iya mba, sekarang dia gendut. Mungkin terlalu sibuk jadi jarang olga."
Aku: "Oya, benarkah dia sudah menikah?"
Rendy: "Iya mba, kok tahu?"
Aku: "Iya, aku dikasih tahu Bagas 3 bulan lalu."
Rendy: "Iya mba, dia menikah November tahun lalu, tapi aku juga ga bisa datang waktu itu soalnya aku sedang latihan di Serpong."
Rendy: "Tapi istrinya biasa mba, cantikan mba kok."
Aku: "Oowh gitu yaa, ahh masak sih? Istrinya kerja di Maluku juga?"
Rendy: "Beneran mba, ni aku kirim fotonya. Istrinya di Instansi Pusat di Jakarta sini mba. Dulu temannya saat pendidikan."
Aku: "Hmmm, cantik juga kok. lha trus gimana ketemunya? Dia masih di Maluku kan?"
Rendy: "Iyalah mba, perempuan di mana-mana cantik. Tapi tetep lebih cantik mba pokoknya. Dia kan sekarang juga di Jakarta mba, di Instansi Pusat juga."
Aku kembali tidak percaya, kembali ingat mimpi Januari itu, saat aku bertemu dengan Ibunya. "Ahh tidak mungkin." Aku mencoba menyangkal. Bagaimana bisa seperti itu? Bukankah Instansi Pusat itu ada di kawasan Sudirman, seperti yang aku lihat dalam mimpi itu. Ohh God, aku ingin menyangkal ini semua.
Aku: "Sejak kapan dia di Jakarta?"
Rendy: "Hmmm... Kapan yaa? Kayaknya udah hampir 5 bulan deh mba di sini..."
"Astaga..." Gumamku. Aku benar-benar tidak percaya ini. Lima bulan lalu pula aku kembali ke Jakarta setelah menenangkan diri di Yogyakarta. Lalu mimpi itu? Kenapa semua berkaitan seperti ini? Dan masih ada mimpi-mimpi lain yang teramat aneh bagiku. Aku benar-benar tidak mengerti. De Javu kah aku?



Minggu, 01 Desember 2013

KENANGAN

Hari ini, kembali terbuka memori itu
Andai, kala itu aku memilih singgah daripada pergi
Mungkin tak pernah kutemui sesal
Memori ini membawaku
Bertamu ke sebuah masa
Di mana aku duduk di sebuah balkon
Di mana kau bersiul dari kejauhan
Di mana aku meraih coklat dari cangkirku
Dan kau tersenyum

Kini ke mana kisah itu
Sejak kau berlalu, aku beku
Tak ada lagi yang seindah itu
Tak bisa kutemukan tawa seperti kala itu
Kau telah jauh
Tak mungkin kembali
Menghapus air mataku dengan tawamu lagi

Kau kini adalah hidupnya
Yang kan selalu dibawa dalam setiap doanya
Untuk tetap singgah dalam hatinya
Dan tetap memeluknya saat ia menangis

Tidak kah aku terlalu lancang
Masih mengingat kau saat ini
Aku ingin pergi
Namun memori ini tak mau menghapus kau dan kenangan

Bogor, 1 Desember 2013

Kamis, 14 November 2013

ANOMALI SEL

Kuhembuskan nafasku. Mencoba melegakan hati. Meski kurasakan ngilu di ujung tulang rusukku. Inilah bahasa tubuh. Ada saraf-saraf yang saling bertautan antara perasaan, pikiran, saraf dan aliran darah. Kini aku mengerti alasan seorang dokter menghimbau pada pasiennya:
"Jangan banyak pikiran!"
Yaa, ternyata memang ketika pikiran kita sedang tidak beraturan, mampu mengirimkan sinyal ke seluruh tubuh kita untuk melakukan sebuah pertikaian di dalamnya.

Kepada kamu;
Sel abnormal yang singgah di tubuhku
Bisakah kamu bersabar sebentar
Membiarkan hati dan logikaku bersiap diri
Menerima kehadiranmu meronta dalam aliran darahku
Aku tahu kau tidak sabar
Kau ingin segera menari
Menggerogoti organ tubuhku
Melemahkanku dan menjatuhkanku
Dalam kuasa sel abnormalmu

Kepada kamu;
Sel abnormal yang singgah di tubuhku
Beri aku waktu membersihkan diri
Dari dosa yang selalu kucumbui
Beri aku waktu melihat sebuah senyuman
Darinya yang telah membuatku ada

Kepada kamu;
Sel abnormal yang singgah di tubuhku
Ada kala kuingin kau mati
Namun saat rapuhku menjejali pikiranku
Kuingin kau datang membanjiriku lebih banyak dari hari ini

Bogor, 14 November 2013

Kamis, 07 November 2013

Diam

Ingin kembali duduk pada sebuah atap
Menatapmu dari kejauhan
Kau mungkin senyum yang pernah kulukis
Di sepanjang hariku tadi
Tapi kenapa malam ini kau tak ada
Aku diam mencari senyummu
Aku merahasiakan rindu pada sinarmu
Bukan aku tak mampu ikut tersenyum bersamamu
Namun aku takut bukan hanya aku yang merindukan senyummu itu

Sajak Bulan Sabit
Bogor, 07 November 2013

Bumi pun Lelah

Lihatlah pada satu titik Langit yang semula abu-abu perlahan membiru Pagi tak lagi menyuguhkan aroma asap knalpot Sisi-sisi jalan mulai...