Rabu, 08 Oktober 2014

Angel: Putri Mimpi dan Imajinasiku

Setahun enam bulan lalu
Gadis kecil dalam sebuah mimpi
Selamat datang di dunia
Hari ini, tiga hari sudah kau hirup aroma dunia
Selamat sayang, kau adalah gadis itu
Yang kupangku dalam sebuah mimpi
Yang kulahirkan dalam sebuah cerita rekaanku
Angel, kusebut namamu dalam novel belum berjudulku
Dalam imajinasi dan karyaku
Kukisahkan tentang kamu
Gadis kecil yang mungil dan penuh kasih sayang
Angel, meski kau terlahir dari rahim mamamu, bukan aku
Namun kau adalah gadis kecil yang kan kubanjiri doa-doa terbaikku
Angel, kau adalah malaikat
Yang menyimpulkan senyumku lagi kali ini
Angel, aku yakin ini bukan lagi kebetulan yang berulang
Kau adalah bukti nyatanya
Kehadiranmu yang kurasakan justru sebelum kau ada
Angel, betapa bahagianya papamu
Kau adalah dambaan hatinya sejak dahulu
Jadilah malaikat yang selalu menjaga papamu sayang

*Puisi untuk gadis kecil dalam pangkuan mimpiku yang terlahir 5 Oktober 2014 lalu

Bogor, 8 Oktober 2014

Jumat, 03 Oktober 2014

Batik : Sebuah Persembahan untuk Hari Batik Nasional


Mega mendung, kawung, merak, sekar jagad, truntum, pringgodani, manggaran
Tak terpisahkan dengan aneka warna yang melapisinya
Lilin-lilin cair dan canting-canting mungil
Menari dalam genggaman jemari wanita pribumi
Di atas lembaran-lembaran kain putih

Aneka motif yang terlahir dari alam Indonesia
Adalah sebuah kebanggaan Ibu Pertiwi
Sebagai ciri khas dan karya abadi anak bangsa
Yang harus terjaga dan terlestarikan

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Hentikan Keluhan


Serpihan peluru bersarang di bahu lelaki itu
Ia berjalan menahan kucuran darah dari bahu kirinya
Sehelai kain diikatnya tuk menahan peluru masuk terlalu dalam
Rasa sakit dibenamkannya demi menyelamatkan batas-batas wilayah

Ia yang dengan bangga menerima mandat
Rela berjauhan dari keluarga tercintanya
Demi keutuhan sebuah bangsa
Tetap diam tanpa keluhan

Lalu mengapakah raga ini berkeluh kesah
Yang sehari-hari berdiri di ruang dingin dan sejuk
Membagi ilmu tanpa kecemasan akan todongan moncong senapan
Bukankah harusnya kusampaikan rasa syukur yang tiada terkira

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Teriak Sebongkah Kayu



Dingin tak teruraikan mentari
Langit masih saja teduh
Mengiringi langkah kaki
Menggapai mimpi

Sebongkah balok kayu terbujur kaku
Mengantarkan kaki-kaki mungil ke seberang
Kaki-kaki mungil mengayuh langkah tanpa alas kaki

Teriak sebongkah kayu;
Lepas sepatumu, aku terlalu licin untuk alas sepatu
murahmu!
Pelan-pelan saja, jangan kalian berebut!
Salah-salah kalian terpeleset dan jatuh ke aliran deras
di bawahku
Sungai-sungai berbatu itu bisa menelan dan melukai
tubuh mungil kalian

Sebongkah kayu yang membujur di atas sungai iba
Pada kaki-kaki mungil yang melintasinya
Betapa ia mencemaskan nasib mereka di atas batangnya yang telah renta dan lapuk

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Selasa, 30 September 2014

Mimpi-Mimpi Tanpa Nyali


Ketika sebuah mimpi bagai debu beterbangan
Tak punya arah dan tujuan yang pasti
Nyali yang mengerucut ketakutan
Buru-buru ingin pergi menjauh dari mimpi
Meski hati begitu mengingini mimpi-mimpi itu nyata
Namun ketakukan begitu memilukan sebuah luka
Ketika nyali membenamkan raganya
Sesal kembali menyerang menyergap segera
Katanya...
Andai tak ada malam natal itu
Andai tak ada pertemuan itu
Dunianya adalah hari-hari bahagia tanpa jeda
Sedang ia kan tumbuh kokoh bagai batu-batu purbakala
Tak tergoyahkan dan gagah
Namun sayang, ia kini kerikil-kerikil kecil
Yang diinjak kaki dan ditendang semaunya sendiri

Bogor, 29 September 2014

Doaku kepada Tuhan; Malam Ini





Tuhan, kepadaMu aku berdoa
Ajak aku selalu bersyukur dalam keadaan apapun
Ingatkan aku bahwa hidupku kini adalah kesempurnaan dariMu
Tuhan, kepadaMu aku berdoa
Ajak aku selalu bersyukur kepadaMu
Ingatkan aku atas nikmatMu yang tak pernah terhenti
Tuhan, kepadamu aku berdoa
Ajak aku tuk berhenti mengeluhkan hidup
Ingatkan aku bahwa rencana-rencanaMu adalah yang terindah

Bogor, 29 September 2014

Kamis, 11 September 2014

Pohon Kehidupan

"Aku bahagia"

Sekali lagi kukatakan
"Aku bahagia"

Melihat pohon itu tumbuh kokoh
Menjulang tinggi ke angkasa

Meski dedaunannya ia gugurkan ke tanah
Ia tetap memberi makna pada kehidupan
Bahwa di tanah itu ia simpan air kehidupan beribu makhluk

Pohon itu kini berbenih mungil
Yang kelak pun kan belajar pada pohon besar itu
Menebar manfaat bagi kelangsungan makhluk

Tuhan,
Kutitip pohon besar itu dalam penjagaanMu
Juga pohon kecil yang baru saja terlahir itu

Jakarta, 11 September 2014

Bumi pun Lelah

Lihatlah pada satu titik Langit yang semula abu-abu perlahan membiru Pagi tak lagi menyuguhkan aroma asap knalpot Sisi-sisi jalan mulai...