Jumat, 03 Oktober 2014

Hentikan Keluhan


Serpihan peluru bersarang di bahu lelaki itu
Ia berjalan menahan kucuran darah dari bahu kirinya
Sehelai kain diikatnya tuk menahan peluru masuk terlalu dalam
Rasa sakit dibenamkannya demi menyelamatkan batas-batas wilayah

Ia yang dengan bangga menerima mandat
Rela berjauhan dari keluarga tercintanya
Demi keutuhan sebuah bangsa
Tetap diam tanpa keluhan

Lalu mengapakah raga ini berkeluh kesah
Yang sehari-hari berdiri di ruang dingin dan sejuk
Membagi ilmu tanpa kecemasan akan todongan moncong senapan
Bukankah harusnya kusampaikan rasa syukur yang tiada terkira

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Teriak Sebongkah Kayu



Dingin tak teruraikan mentari
Langit masih saja teduh
Mengiringi langkah kaki
Menggapai mimpi

Sebongkah balok kayu terbujur kaku
Mengantarkan kaki-kaki mungil ke seberang
Kaki-kaki mungil mengayuh langkah tanpa alas kaki

Teriak sebongkah kayu;
Lepas sepatumu, aku terlalu licin untuk alas sepatu
murahmu!
Pelan-pelan saja, jangan kalian berebut!
Salah-salah kalian terpeleset dan jatuh ke aliran deras
di bawahku
Sungai-sungai berbatu itu bisa menelan dan melukai
tubuh mungil kalian

Sebongkah kayu yang membujur di atas sungai iba
Pada kaki-kaki mungil yang melintasinya
Betapa ia mencemaskan nasib mereka di atas batangnya yang telah renta dan lapuk

Rara Sarasva
Bogor, 02 Oktober 2014

Selasa, 30 September 2014

Mimpi-Mimpi Tanpa Nyali


Ketika sebuah mimpi bagai debu beterbangan
Tak punya arah dan tujuan yang pasti
Nyali yang mengerucut ketakutan
Buru-buru ingin pergi menjauh dari mimpi
Meski hati begitu mengingini mimpi-mimpi itu nyata
Namun ketakukan begitu memilukan sebuah luka
Ketika nyali membenamkan raganya
Sesal kembali menyerang menyergap segera
Katanya...
Andai tak ada malam natal itu
Andai tak ada pertemuan itu
Dunianya adalah hari-hari bahagia tanpa jeda
Sedang ia kan tumbuh kokoh bagai batu-batu purbakala
Tak tergoyahkan dan gagah
Namun sayang, ia kini kerikil-kerikil kecil
Yang diinjak kaki dan ditendang semaunya sendiri

Bogor, 29 September 2014

Doaku kepada Tuhan; Malam Ini





Tuhan, kepadaMu aku berdoa
Ajak aku selalu bersyukur dalam keadaan apapun
Ingatkan aku bahwa hidupku kini adalah kesempurnaan dariMu
Tuhan, kepadaMu aku berdoa
Ajak aku selalu bersyukur kepadaMu
Ingatkan aku atas nikmatMu yang tak pernah terhenti
Tuhan, kepadamu aku berdoa
Ajak aku tuk berhenti mengeluhkan hidup
Ingatkan aku bahwa rencana-rencanaMu adalah yang terindah

Bogor, 29 September 2014

Kamis, 11 September 2014

Pohon Kehidupan

"Aku bahagia"

Sekali lagi kukatakan
"Aku bahagia"

Melihat pohon itu tumbuh kokoh
Menjulang tinggi ke angkasa

Meski dedaunannya ia gugurkan ke tanah
Ia tetap memberi makna pada kehidupan
Bahwa di tanah itu ia simpan air kehidupan beribu makhluk

Pohon itu kini berbenih mungil
Yang kelak pun kan belajar pada pohon besar itu
Menebar manfaat bagi kelangsungan makhluk

Tuhan,
Kutitip pohon besar itu dalam penjagaanMu
Juga pohon kecil yang baru saja terlahir itu

Jakarta, 11 September 2014

Sabtu, 16 Agustus 2014

Tentang Sebuah Rindu

Pernahkah terbersit dalam hati dan benakmu
Tentang sebuah kerinduan pada hatiku?
Pernahkah kau rindukan cinta seperti cintaku yang dulu?
Tentang cinta yang tak pernah peduli pada cemooh orang lain?
Tentang cinta yang selalu bisa memaafkan?
Tentang cinta yang penuh dengan ujian kesetiaan?
Tentang cinta yang tak pernah melihat siapa aku dan siapa kamu di mata orang lain?
Namun cinta kita selalu bertumbuh setiap waktu
Cinta kita membuat kita selalu ingin saling bertahan dalam badai
Saat aku lemah dan menyerah, kau kuatkanku dengan inginmu bertahan
Saat kau meragu, aku selalu yakinkanmu tuk percaya;
Bahwa hati ini sepenuhnya milikmu

Namun, kini sudah tak ada lagi jalan tuk kita kembali pada satu titik rasa yang sama.
Kini aku tak mampu meyakini tentang hatimu untukku lagi
Meski kusadari, hatiku masih teramat sulit untuk berganti rasa

Jakarta, 16 Agustus 2014

Selasa, 05 Agustus 2014

Mentari Pagi

Dialah mentari pagi yang kusapa sebelum kumulai mengayuh otak
Dialah mentari pagi yang selalu ingin kutatap dalam-dalam
Manakala mata ini terbuka dari tidur yang lelap
Dialah mentari pagi yang selalu memicu jantungku tetap berdetak
Tuk bisa bertemu dengannya kembali
Dialah mentari pagi
Yang terbit di ujung timur sana
Tempat kugantung sebuah harap dan impian

Sleman Yogyakarta, 4 Agustus 2014

Bumi pun Lelah

Lihatlah pada satu titik Langit yang semula abu-abu perlahan membiru Pagi tak lagi menyuguhkan aroma asap knalpot Sisi-sisi jalan mulai...